Idul Adha atau yang disebut dengan ‘Lebaran Haji’ merupakan salah satu hari besar Umat Islam di seluruh dunia. Pada Hari Raya ini umat muslim yang sedang melaksanakan ibadah haji tengah wukuf di Arafah. Sementara itu, umat muslim yang belum berkesempatan untuk melakukan ibadah haji, dianjurkan untuk menyembelih hewan atau lebih lazim disebut ber-qurban.

Sejarah singkat Idul Adha berawal pada malam tanggal 8 Dzulhijah ketika Nabi Ibrahim tidur dan bermimpi. Mimpi tersebut datang berulang-ulang hingga tanggal 10 Dzulhijjah. Dalam mimpinya, Nabi Ibrahim diperintahkan oleh Allah SWT untuk menyembelih putranya, Ismail. Pada saat itu Ismail masih berumur 9 tahun.

Karena Ismail ikhlas akan perintah dari Allah SWT tersebut, akhirnya Nabi Ibrahim hendak menyembelihnya di Mina. Melihat hal tersebut, Iblis menggoda Nabi Ibrahim, Siti Hajar, dan Ismail agar penyembelihan tersebut untuk gagal dilakukan. Namun Iblis putus asa karena tipu muslihatnya digagalkan dengan lemparan batu yang dilakukan Ismail.

Akhirnya tangan Ismail diikat, wajahnya diletakkan di atas tanah. Lalu saat Nabi Ibrahim menyembelih leher Ismail, Allah SWT membuat pisau Nabi Ibrahim tidak mempan untuk melukai leher Ismail. Ternyata perintah menyembelih Ismail merupakan ujian yang diberikan Allah SWT. Nah sebab Ismail, Nabi Ibrahim, dan Siti Hajar sabar menghadapinya, maka Allah SWT memberikan pertolongan.

Sebagai pengganti Ismail, Allah SWT mengutus Malaikat Jibril untuk mengirim seekor domba yang berukuran besar. Dari peristiwa tersebut, maka setiap tanggal 10 Dzulhijjah diperingati sebagai hari Raya Idul Adha. Dari sejarah tersebut, diharapkan setiap muslim yang mampu secara finansial dapat melakukan perintah kurban.

Untuk Idul Adha 2019 sendiri jatuh pada hari Minggu, tanggal 11 Agustus nanti. Setiap tahunnya hari besar umat Muslim ini selalu diperingati secara suka cita. Setelah ber-qurban, umumnya kebanyakkan masyarakat menikmati sate, hasil sisa pembagian dari daging kurban yang telah disembelih. Selain itu tidak lupa ucapan atau greeting Idul Adha kepada sanak keluarga maupun teman dan kerabat juga disampaikan secara lisan atau melalui pesan singkat dan media sosial.

Karena momen Lebaran Haji ini sangat spesial, di beberapa daerah di Indonesia, Idul Adha juga disambut dan dirayakan dengan tradisi unik. Kamu ingin tahu, daerah mana saja yang melakukan tradisi unik tersebut? Dan seperti apa tradisi yang dilakukannya? Simak informasi dari ProductNation di bawah ini!

  • Mape Kasur, Banyuwangi

Mape Kasur merupakan tradisi menjemur kasur di depan rumah yang dilakukan oleh masyarakat Osing di Desa Kemiren, Glagah, Banyuwangi, Jawa Timur. Sambil dijemur, kasur juga dipukul-pukul menggunakan sapu lidi atau penebah rotan supaya bersih dari kotoran dan debu. Kasur dijemur dari pagi hingga sore hari.

Tradisi dikeluarkannya kasur dari rumah, diyakini masyarakat Osing, bahwa mereka akan bersih dari segala penyakit. Selain itu, tradisi ini juga dilakukan agar pasangan suami istri memiliki rumah tangga yang semakin langgeng. Hal ini disebabkan kasur yang telah dijemur dapat bersih dan empuk kembali. Sehingga membuat tidur lebih nyaman dan harmonis, serasa seperti saat pengantin baru.

  • Apitan, Semarang

Selain masyarakat Banyuwangi, warga Sampangan, Semarang, Jawa Tengah pun juga memiliki tradisi spesial dalam merayakan Lebaran Haji. Tradisi tersebut disebut dengan ‘Apitan’ atau ‘Sedekah Bumi Apitan’. Dalam tradisi ini warga melakukan arak-arakan sambil membawa tumpeng dan hasil pertanian. Menarik bukan?

Perlu kamu ketahui bahwa tradisi ini merupakan cerminan dari rasa syukur atas rezeki yang telah diberikan Sang Pencipta. Selain arak-arakan, semua warga juga berkumpul untuk melaksanakan doa bersama agar diberi keselamatan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Selanjutnya sebagai kegiatan penutup warga akan memperebutkan hasil pertanian yang dipercaya dapat membawa berkah.

  • Manten Sapi, Pasuruan

Tradisi unik Lebaran Haji di Indonesia lainnya yaitu tradisi Manten Sapi yang dilakukan oleh warga Desa Wates Tani, Kecamatan Granti, Kabupaten Pasuruan. Bisa tertebak melalui namanya, tradisi ini terdiri dari prosesi merias sapi seperti pengantin agar terlihat ganteng dan cantik.

Sebelum didandani, sapi juga dimandikan terlebih dahulu menggunakan air kembang. Selanjutnya sapi dibalut menggunakan kain putih, sorban atau sajadah. Tidak lupa sapi juga dikalungi bunga tujuh rupa agar terlihat semakin menarik. Setelah siap, warga mengarak sapi-sapi tersebut ke tempat penyembelihan.

Sebenarnya perlakuan unik pada sapi-sapi tersebut dilakukan sebagai simbol penghargaan pada mereka sebagai hewan kurban yang akan disembelih. Setelah proses penyembelihan selesai, para ibu-ibu akan melakukan kegiatan masak bersama menggunakan peralatan rumah tangga dan bumbu dapur yang telah dibawa dari rumah masing-masing.

  • Grebeg Gunungan, Yogyakarta

Tak asing dengan kata ‘Grebeg Gunungan’? Memang tradisi yang dilakukan oleh warga Yogyakarta ini cukup terkenal. Sebenarnya tradisi ini tidak berbeda jauh dengan tradisi apitan. Grebeg Gunungan juga digelar dengan mengadakan doa dan arak-arakan sambil membawa gunungan yaitu hasil bumi yang disusun menyerupai gunung.

Biasanya warga membawa 4 gunungan, yaitu gunungan wadon, lanang, pawuhan, dan gepak. Keempat gunungan tersebut diarak dari Kraton menuju Masjid Gede. Sesampainya di masjid, masyarakat melakukan doa bersama dan berebut hasil bumi yang terdapat pada gunungan tersebut. Hasil bumi yang diperoleh dipercaya dapat memberikan berkah.

  • Tradisi Toron, Madura

Bagi warga Madura, mudik tak hanya dilakukan saat Idul Fitri Saja. Tradisi ini juga dilakukan saat libur Lebaran Haji dengan sebutan ‘Toron’. Secara lebih luas kata ‘Toron’ memiliki arti membangun kembali ikatan atau jalinan silaturahmi bersama orang-orang di tanah kelahiran. Dengan adanya tradisi ini, bukan hanya ikatan antara perantau dan keluarganya saja yang terbentuk dengan harmonis.

Namun tali silaturahmi seluruh warga Madura juga menjadi semakin terjaga keutuhannya. Selain itu, Toron juga bisa mengembalikan jati diri perantau sebagai warga Madura asli. Saat berkumpul bersama, biasanya keluarga di Madura juga menyantap ketupat bersama, memotong hewan kurban dan memasaknya secara bersama-sama.

  • Kaul Negeri, Maluku Tengah

Warga bagian Indonesia Timur, yakni warga Tulehu, Maluku tengah merayakan Idul Adha dengan tradisi yang disebut ‘Kaul Negeri’. Tradisi ini diselenggarakan sejak abad ke-17 silam dengan melakukan proses penyembelihan sebanyak 2 kali.

Penyembelihan pertama dilakukan seperti biasa selesai shalat Idul Adha. Nah, penyembelihan kedua merupakan penyembelihan khusus yang terdiri dari penyembelihan satu kambing inti dan dua kambing pendamping.

Uniknya ketiga kambing tersebut digendong dengan kain terlebih dahulu oleh pemuka adat dan agama, sebelum akhirnya disembelih. Sambil digendong, kambing tersebut diarak dengan takbir dan sholawat Nabi menuju ke Masjid Negeri Tulehu. Selanjutnya kambing tersebut disembelih sambil ditaburi dengan bunga-bunga oleh ibu-ibu yang berada di atas Masjid.

  • Tradisi Accera Kalompoang, Gowa

Tradisi unik terakhir yang dilakukan saat Idul Adha yaitu Accera Kalompoang. Tradisi ini merupakan upacara adat sakral terbesar sepanjang tahun yang dilakukan oleh warga Gowa, Sulawesi Selatan. Upacara ini diselenggarakan selama 2 hari berturut-turut di Istana Raja Gowa.

Upacara ini terdiri dari serangkaian ritual yang dimulai dengan ritual allekka je’ne atau pengambilan air di sumur Bungung Lompoa. Para warga pergi ke lokasi tersebut dengan membawa sesajen sambil melantunkan nyanyian kepada Sang Pencipta dan para leluhur. Selanjutnya warga menaburkan sesajen tersebut di atas air sumur.

Setelah itu warga menggelar upacara ammolong tedong, yakni menyembelih kerbau yang sebelumnya telah didandani dengan kain putih dan diarak mengelilingi istana. Kemudian pada malam harinya keluarga raja melakukan upacara appidalleki yaitu mempersembahkan sajen pada leluhur sambil mengucapkan syukur pada Tuhan Yang Maha Esa.

Barulah saat pagi hari selesai shalat Idul Adha, masyarakat mengadakan upacara puncak allangiri kalompoang, yaitu mensucikan benda warisan kerajaan Gowa oleh para sesepuh adat. Satu persatu benda tersebut dibasuh dengan air sumur Bungung Lompoa, lalu diasapi menggunakan dupa. Setelah itu warga melanjutkan dengan attitele, sebagai upacara terakhir dari rangkaian tradisi ini.

Pada prosesi attitele para keturunan raja mengambil darah kerbau dan air untuk diusapkan pada mahkota. Setelah itu dilakukan pemanjatan doa pada Sang Pencipta. Semua rangkaian upacara Accera Kalompoang dimaksudkan untuk memohon keselamatan pada Tuhan, menghormati leluhur, melestrarikan budaya, dan mempererat keutuhan masyarakat Gowa dengan pemerintah.

Nah, itu dia 7 tradisi unik pada hari Idul Adha yang hanya ada di Indonesia. Semuanya sangat menarik dan penuh rasa kebersamaan bukan? Kalo di daerahmu sendiri punya cara unik apa untuk merayakan Idul Adha atau Lebaran Haji tahun 2019 ini? Apapun itu, pastinya jangan lupa untuk menyiapkan ucapan paling spesial untuk keluarga dan sahabat-sahabatmu ya! Semoga kita semua mendapatkan keberkahan pada Hari Raya Idul Adha! Selamat makan sate!

Baca Juga : 5 Olahan Daging Kambing Selain Sate Untuk Santapan di Hari Raya Idul Adha

Disclaimer: Harga yang tercantum adalah referensi dari harga produk. Harga dapat berubah-ubah berdasarkan promo yang sedang berlaku di masing-masing toko online. Jika ada produk yang sudah tidak lagi tersedia, mohon menghubungi kami, di email: [email protected] Terima kasih!

Tentang rifa

authoress

Rekomendasi Bacaan

Simpan sekarang, beli nanti. Kami akan memberitahumu jika harga turun!